Menulis Dosis dan Sediaan Resep

Posted: March 19, 2011 in Farmakologi
Tags: , , ,

Preskripsi dokter memerlukan ketepatan dosis obat yang diberikan dan pemilihan formula yang tepat pula. Calon dokter harus dapat memahami cara menentukan dosis obat dengan tepat dengan cara perhitungan yang benar dan harus memahami formula resep yang tepat digunakan untuk mewujudkan terapi rasional.

DOSIS OBAT DALAM PRESKRIPSI

Dosis tepat sangat dibutuhkan supaya efek dari obat optimal dan resiko efek samping sekecil mungkin. Besaran dosis terapi obat biasanya dicantumkan dalam rentangan/kisaran dosis, misalkan 250-500 mg. Rentangan dosis ini menunjukkan kadar obat yang aman yang dapat diberikan dalam praktek pengobatan. Bila dokter memberikan dosis di bawah/ di atas dosis rentangan, maka dapat memberikan efek yang merugikan bagi pasien dan dapat menimbulkan pertanyaan bagi apotek yang menerima resep tersebut. Dosis obat dalam preskripsi adalah besarnya dosisi per kali untuk pasien dan mungkin dalam sehari dapat diberikan beberapa kali sesuai dengan frekuensi pemberian yang tertulis di dalam resep.

Penentuan dosis tersebut   didapatkan darai dosis terapi (dosis lazim) yang tercantum dalam literatur. Untuk dosis anak biasanya dicantumkan dengan misalnya 20-40 mg/kg BB/hari. Sehingga perlua adnya penentuan dosis yang cermat bagi anak. Ada beberapa obat yang   mencantumkan dosis hanya untuk orang   dewasa,   sehingga   bila   obat   itu   akan   diberikan   kepada   anak   maka   perlu   perhituanan   dengan membandingkan dengan dosis dewasa, dengan menggunakan rumus ( misalkan R. Clark, R. Young, dl )

CARA MENGHITUNG DOSIS ANAK

Ada beberapa cara dalam menghitung dosis anak. Untuk itu, dipilih yang dapat menunjukkan pengetrapan dosis individual. Untuk obat-obat yang mempunyai rentang terapi sempit, maka memerlukan ketelitian yang tinggi dalam menentukan dosis untuk anak. Contoh: Hitunglah dosis Amoxycil in untuk anak berumur 4 tahun dengan BB 17 kg Diketahui: Dosis Amoxycil in anak di bawah BB 20 kg adalah 20-40 mg/kg BB/ hari diberikan dalam dosis terbagi tiap 6-8 jam. Untuk dosis dewasa adalah 250-500 mg, diberikan tiap 6-8 jam.

Perhitungan:

1.      Berdasarkan individual dengan ukuran fisik BB:

17 X (20-40) mg = 340- 780 mg/hari Bila dipilih diberikan 3X sehari, maka dosis per kali pemberian = 113,33 – 226,67 mg

2.      Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus Clark

17/20  X (250-500) mg = 60,71 – 121,43 mg/kali

3.      Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus Young

4/16  x (250-500) mg = 62,5-125 mg/kali

4.      Berdasarkan dosis dewasa dengan Tabel J.Hahn:

5.      Anak 4 tahun, BB 13,0-16,3 kg  = 23% dosis dewasa = 57,5-115 mg/kali

Hasil di atas menunjukkan bahwa cara perhitungan tersebut menghasilkan dosis yang berbeda. Dengan mempertimbangkan kondisi penyakit dan kondisi penderita, maka dokter dapat menentukan besarnya dosis per kali dan per hari dalam resepnya. Misalkan diputuskan memberikan amoxycil in per kali 125 mg Bila frekuensinya 3 kali sehari, maka dosis per hari adalah 375 mg.

FORMULA RESEP

Ada 3 formula dalam penulisan resep (magistrlis, officinalis dan spesialistis). Faktor yang   diperhatikan dalam penentuan jenis formula yang akan digunakan:

1) ketepatan dosis,

2) stabilitas obat terjamin,

3) kepatuhan pasien,

4) kemudahan mendapatkan obat/sediaan,

5) harga terjangkau

FORMULA MAGISTRALIS

Formula ini dikenal dengan resep racikan.Dalam hal ini, dokter selain menuliskan bahan obat, juga bahan tambahan. Bahan tambahan yang ditambahkan tergantung dari sediaan yang di nginkan. Oleh karena itu, penting sekali diperhatikan sifat obat, interaksi farmasetik, macam bentuk sediaan dan macam bahan tambahan yang dapat digunakan serta pedoman penulisan resep magistralis.

Hal-hal yang penting diperhatikan dalam formula magistralis:

1. Bahan obat, sedapat mungkin menggunakan bahan baku. Penggunaan sediaan jadi/paten (tablet, sirup, dl ) sering menimbulkan masalah baik dalam pelayanan( misalkan tidak dapat halus, tidak homogen, dan tidak stabil) maupun kerasionalan terapi (antara lain perubahan formula sediaan, perubahan bioaviabilitas obat, perubahan absorbsi, penurunan konsentrasi obat). Pencampuran bahan   yang   lebih   dari   satu   macam   harus   dipertimbangkan   adanya   interaksi   (farmasetik   dan farmakologi) dan rasionalitas obat.

2. Bntuk  sediaan   yang   dapat   dipilih  meliputi  serbuk  (pulveres  dan  pulvis  adspersorium),   kapsul, larutan (solusio, infusa), suspensi, unguenta, cream dan pasta.

3. Penentuan   bahan   tambahan   (corrigen   saporis,   corrigen   odoris,   corrigen   coloris,   dan constituent/vehiculum).

Contoh penyusunan resep formula magistralis:

1. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret 2011, menulis resep formula magistralis dengan bentuk sediaan pulveres (puyer) sebanyak 10 bungkus, setiap bungkus mengandung paracetamol 120 mg. Puyer ini diberikan kepada Sari (2 tahun, 12 kg) dengan aturan pakai:bila panas diberikan 3 X sehari, tiap kali satu bungkus


Keterangan:Ambilkan paracetamol 120 mg dan sacch lactis   secukupnya,   campur   dan   buatlah menurut   aturan   puyer   sebanyak   10bungkus,   masing-masing   bungkus mengandung   120   mg   paracetamol   dan sacch   lactis   secukupnya.   Tandailah:   bila panas   dapat   diberikan   3   X   sehari   1 bungkus

Keterangan:
Ambilkan   paracetamol   1,2   g   dan   sacch lactis   secukupnya,   campur   dan   buatlah menurut   aturan   puyer   sebanyak   10 bungkus.   Tandailah:   bila   panas   dapat diberikan 3 X sehari 1 bungkus

2. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret 2011, menulis resep formula magistralis dengan bentuk sediaan salep sebanyak 20 gram yang mengandung boric 5% serta menggunakan bahan dasar vaselin album. Salep ini diberikan kepada Tono (20 tahun) dengan aturan pakai:diberikan 2 kali sehari, untuk obat luar

Resep dengan formula ini berarti obat yang digunakan adalah obat generik dan tersedia dalan sediaan generik  (BPOM  Depkes)   atau   sediaan   standar   baku   (Formularium  Indonesia).   Dengan   menggunakan formula ini, berarti dokter sudah tahu komposisi bahan aktif dan kegunaannya. Penulisan ini cepat dan sederhana serta harganya lebih murah.

Contoh formula officinalis:

1. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret 2011, menulis resep dengan menggunakan obat batuk Potio nigra contra tussim, suatu formula standar dalam Formularium Indonesia dan diberikan kepada Bp. Tono dengan aturan pakai:bila batuk dapat diminum 4 X sehari satu sendok makan, selama 10 hari

Keterangan:
Dokter munggunakan formula standar dalam Formularium Indonesia. Komposisi obat tersebut:
Pot nigr. c. tuss. 300 ml
Succus liquiritae 10
Amm.Chloride 6
Sol amm.spirt. anis 6
Aqua dest. Ad 300 ml
Pemakaian 4-5 d.d. C.I

2. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret 2011 menulis  resep dengan  menggunakan  sediaaan  generic berlogo salep  mata  Chlorampenicol  (1%)  dan diberikan kepada Bp. Tono dengan aturan pakai: 2 X sehari dioleskan pada mata kanan dan kiri, pagi dan sore

Keterangan:
Dengan resep tersebut, dokter menggunakan formula standar dalam sediaan jadi generik berlogo.
Komposisi obat tersebut:
Ungt. Ophth. Chlorampenicol 1%.
Setiap gram salep mata mengandung 10 mg Chlorampenicol, berat tiap tube 5 gram

FORMULA SPESIALISTIS

Resep yang ditulis dengan formula ini adalah obat paten dari pabrik obat. Kadang pabrik obat membuat obat dengan berbagai sediaan, kekuatan, dan kombinasi obat. Bila penulisan resep ini kurang jelas atau tidak lengkap dapat mengakibatklan kesalahan dalam pelayanan di apotek.

Contoh penulisan resep spesialistis:

1. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret2011, menulis resep dengan menggunakan sediaaan paten Al erin expektorant 120 ml dan diberikan kepada Bp.Tono dengan aturan pakai:3 X sehari 2 sendok teh (volume cairan obat yang diminum adalah 10 ml).

2. Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL. T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret 2011 menulis resep dengan menggunakan sediaaan paten kaplet Kalmoxicil in 500 mg sebanyak 20 biji dan diberikan kepada Bp. Tono dengan aturan pakai:3 X sehari

Keterangan:

Dengan resep tersebut, dokter menggunakan formula spesialistis dan menggunakan obat dengan anam paten. Bentuk sediaan: sirup
Komposisi: Tiap kaplet Kalmoxicil in500 mg
mengandung Amoxycil in trihidrat
Selain sediaan tersebut, ada pula Kapsul 250mg, suspensi kering 125 mg/5 ml dengan
kemasan botol 60 ml, suspensi kering 250 mg/5ml dengan kemasan botol 60  ml,injeksi (serbuk1g/vial)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1976, Formularium Indonesia
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, Depkes RI
Anonim, 1989, Informatorium Obat Generik, Depkes RI, Jakarta
Ansel, H.C, Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms.Lea dan Febiger, Philadelphia
Gan, Sulistia, 1995.Farmakologi dan Terapi, edisi ke-4, FK-UI, Jakarta
Osol, Ansel, 1975, Remingtons’s Pharmaceutical Science.Philadelphia
PEFARDI JATIM, Pendidikan Berkelanjutan Ilmu Farmasi Kedokteran, PEFARDI, Murnajati Lawang, jatim, 1 november 2002

Keterangan:

Dengan resep tersebut, dokter menggunakan

formula   spesialistis   dan   menggunakan   obat

dengan nama paten. Bentuk sediaan: sirup

Komposisi: Tiap 5 ml sirup berisi:

Gliseril guaiakolat 50 mg

Natrium sitrat 180 mg

Difenhidramin HCl 12,5 mg

Fenilpropanolamin HCl 12,5 mg

Kemasan: Botol volume 60 ml dan 120 ml

Comments
  1. Mhiyou says:

    terima kasih….
    blog anda sangat membantu saya…
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s