EFEK PROPOLIS TERHADAP KEMAMPUAN BAKTERISIDAL MAKROFAG PADA MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS INTRASELULER

Posted: November 6, 2008 in science, Tak Berkategori

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan dunia. Berkembangnya masalah immunocompromised berhubungan dengan AIDS serta meningkatnya prevalensi resistensi obat pada Mycobacterium tuberculosis. menyebabkan perlunya pemahaman terhadap patogenesis dan respons imun yang mengendalikan tuberkulosis guna pengembangan penatalaksanaan dalam mengatasi infeksi ini. Meskipun kemoterapi masih merupakan penatalaksanaan utama pada tuberkulosis, namun peran serta imunoterapi nmlai menarik perhatian.
Propolis (km lebah) merupakan suatu zat berbentuk resin yang dibuat oleh lebah madu dengan mengumpulkan berbagai zat dari tumbuhan dan dicampur dengan waxnya. Propolis mengandung cffeic acid phenehhyl ester (CAPE), yang memiliki efek imunomodulator dan dapat bekerja pada sistim pertahanan tubuh. menstimulasi proliferasi limfosit, menghambat transknpsi NF-Kappa B dan menginduksi produksi IL-1 dan 7NF-a oleh makrofag teraktivasi.
Sel fagosit utama yang herperan dalam melawan infeksi Mycobacterium tuberculosis adalah makrofag teraktivasi. Monosit dan makrofag pada tubuh inang diadaptasi sangat haik oleh Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah mikrorganisme intraseluler yang dapat menghindari mekanisme antimikrobial utama dari makrofag.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapal perbedaan kemampuan bakterisidat terhadap Mycobacterium ndrercu/osis intrascluler secara in vitro antara makrofag yang diperoleh dari individu sehat dengan yang dari penderita tuberkulosis, dengan dan taupa pemberian propolis selama masa inkubasi tertentu yaitu 24, 72, dan 168 jam).
Peripheral blood ru monrmlear cells (PBMC) diisolasi dan preparasi Milli) coal darah vena cubili individu sehat dan pasien tuberkulosis. Sel PBMC kemudian diletakkan di atas coverslip dalam sununan 24-well tissue culture plate dengan konsentrasi 10′ sel pet- surnuraa Sel-sel ntcansit kemudian dikultur selama 7 hari pada 37″C, 5% CO, pada RPMI yang disuplementasi dengan serum manusia 10% dari Penicillin 100 IU/ml. Pada hari keenam masa inkubasi. sel-sel makrofag distimmlasi 10 µg/ml propolis,.lalu Mycobacterium nrherculosis yang telah diopsonisasi mengganakan komplemen yang terkandung dalam serum manusia, diinfeksikan dalan kultur makrofag pada hari ke tujuh inkubasi tersebut.
Makrofag yang terinfeksi dilisis dengan aquadestilata untuk niengakhiri proses bakterisidal intraseluler_ Hasil lisis kemudian didilusi beberapa kali, kemudian ditanam pada Middlebrook 7H10 dan diinkuhasi selama 1-8 minggu pada 37°C, 5% CO, untuk menganati pertumbuhan Mycobacerium tuberculosis yang mungkin masih hidup. Koloni karakieristik yang tumbuh kemudian dihitung pada akhir minggu ketiga dalam satuan Colony Forming 1 inn (CFU).
Analisis statistika dilakukan dengan menggunakan I/Univariate Analysis of Variance dan Multivariate Test.
Hasil menunjukkan bahwa kemampuan bakterisidal intraseluler antara makrofag individu sehat dan penderita tuberkulosis yang tidak diberi propolis tidak berbeda. Tidak terdapat perbedaan kemampuan bakterisidal intraseluler pada makrofag yang diperoleh dan individu sehat antara yang diberi dengan yang tidak diberi propolis. Terdapat perbedaan kemampuan bakterisidal intraseluler pada makrofag yang diperoleh dari penderita tuberkulosis dengan pemberian propolis setelah 72 dan 168 jam inkubasi_ Setelah 168 jam inkubasi terdapat perbedaan kemampuan bakterisidal intraseluler antara makrofag yang diperoleh dari individu sehat dan yang dan penderita tuberkulosis dengan pemberian propolis (p < 0,05). Tidak ada intcraksi antara berbagai variabel dalam penelitian ini.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa efek propolis terhadap kemampuan bakterisidal makrofag pada Mycobacterium tuberculosis berbeda antara makrofag yang diperoleh dari individu sehat dengan yang dari penderita tuberkulosis setelah 168 jam masa inkubasi.
Pedu dilakukan studi in vitro dengan masa inkubasi bakterisidal intraseluler yang diperpanjang dan juga studi in vivo untuk mengetahui efek propolis pada pemberian peroral.(Dian Rachmawati)

Comments
  1. pertiwi says:

    sudah bagus tetapi kalo bisa dibandingin ama in vivo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s