Haruskah Ke Spesialis??

Posted: March 9, 2011 in Tak Berkategori

Pasien baru sering langsung berobat ke dokter spesialis maupun superspesialis. “Itu tidak benar. Di negara mana pun, sistem itu tidak ada, kecuali Indonesia,” tegas Ketua IDI Prijo Sidipratomo. Karena itu. kata Prijo, sistem pelayanan tersebut wajib diubah. Dokter spesialis harus menerima pasien dari dokter umum. (ngemeng doang)

Masyarakat Indonesia masih cenderung menganggap antara dokter umum dan dokter spesialis itu ibarat pangkat, artinya dokter umum itu levelnya lebih rendah dan ilmunya juga kurang. Hal itu sangat keliru, dan musti diluruskan. Jika ada pembaca yang memiliki keluarga atau teman yang tinggal di luar negeri, contohnya Australia, sebagai resident tetap, cobalah sekali waktu tanyakan proses pelayanan kesehatan disana. Di negara barat, semua masyarakat mengerti jika sakit harus ke family doctor (dokter keluarga) yang notabene dokter umum dengan training khusus untuk mendiskusikan perihal sakitnya.

Selanjutnya jika memang penyakitnya memerlukan tindakan spesialis barulah dokter tersebut akan dirujuk ke dokter spesialis yang tepat tentunya. Tidak pernah boleh seorang sakit disana langsung menghampiri dokter spesialis, sistem pelayanan kesehatannya memang digariskan demikian. Mengapa begitu? Karena memang sesuai namanya, dokter umum memang dicetak sedemikian rupa agar memiliki wawasan yang umum dan luas (general) namanya juga General Practitioner, sehingga dengan demikian ia bisa memikirkan segala kemungkinan penyebab yang mendasari tentang gejala si sakit. Sedangkan dokter spesialis, sesuai dengan namanya, memang dicetak selama masa studinya untuk mendalami suatu bidang penyakit beserta tindakan-tindakan spesifiknya.

Kompetensi dokter umum

Penelitian mengatakan lebih dari 70 % penyakit dapat diselesaikan ditingkat layanan primer. kompetensi dokter umum adalah mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan ini tidak dimiliki oleh dokter spesialis. Pengawasan tentang kompetensi pun sekarang sudah sangat ketat. Dokter yang belum lulus kompeteni tentunya belum bisa mengaplikasikan ilmu kedokterannya. Jadi jangan memutuskan sendiri harus berobat ke spesialis, karena keputusan anda itu tentunya keliru, misalnya..  tiap keluhan batuk tidak harus ke dokter ahli THT, namun bisa aja karena gejala Asthma, TBC atau bahkan GERD, begitu juga kalau nyeri pinggang, belum tentu ke ahli syaraf.

Kebijakan Pemerintah

kebijakan pemerintah saat ini belum mengarah kepada pemberdayaan dokter umum, pemerintah saat ini lebih senang menggunakan tenaga kesehatan yang murah dalam menjalankan program programnya, contoh : desa siaga, banyaknya puskesmas pukesmas yang kosong tanpa dokter ,pemerintah enggan/ tidak sepenuh hati menempatkan dokter dokter dipuskesmas yg kososng tersebut. bahkan pemerintah pusat dan daerah mengeluarkan program pengobatan gratis akan tetapi tanpa memenuhi hak haknya dokter.sehingga dapat megakibatkan pelayanan kesehatan yg kurang baik. sudah saatnya idi mengadvokasi anggota dalam masalah ini.

Tentang Penghasilan

Diluar negeri selisih penghasilan antara dokter umum dan dokter spesialis maksimal 2-3kali lipat dari penghasilan dokter umum/dokter keluarga/dokter layanan primer , di indonesia berkisar antara 10 -200 kali dari penghasilan dokter layanan primer. jadi ga usah takut kemahalan :p.

Pasien baru sering langsung berobat ke dokter spesialis maupun superspesialis. “Itu tidak benar. Di negara mana pun, sistem itu tidak ada, kecuali Indonesia,” tegas Ketua IDI Prijo Sidipratomo. Karena itu. kata Prijo, sistem pelayanan tersebut wajib diubah. Dokter spesialis harus menerima pasien dari dokter umum. (ngemeng doang)

Masyarakat Indonesia masih cenderung menganggap antara dokter umum dan dokter spesialis itu ibarat pangkat, artinya dokter umum itu levelnya lebih rendah dan ilmunya juga kurang. Hal itu sangat keliru, dan musti diluruskan. Jika ada pembaca yang memiliki keluarga atau teman yang tinggal di luar negeri, contohnya Australia, sebagai resident tetap, cobalah sekali waktu tanyakan proses pelayanan kesehatan disana. Di negara barat, semua masyarakat mengerti jika sakit harus ke family doctor (dokter keluarga) yang notabene dokter umum dengan training khusus untuk mendiskusikan perihal sakitnya.

Selanjutnya jika memang penyakitnya memerlukan tindakan spesialis barulah dokter tersebut akan dirujuk ke dokter spesialis yang tepat tentunya. Tidak pernah boleh seorang sakit disana langsung menghampiri dokter spesialis, sistem pelayanan kesehatannya memang digariskan demikian. Mengapa begitu? Karena memang sesuai namanya, dokter umum memang dicetak sedemikian rupa agar memiliki wawasan yang umum dan luas (general) namanya juga General Practitioner, sehingga dengan demikian ia bisa memikirkan segala kemungkinan penyebab yang mendasari tentang gejala si sakit. Sedangkan dokter spesialis, sesuai dengan namanya, memang dicetak selama masa studinya untuk mendalami suatu bidang penyakit beserta tindakan-tindakan spesifiknya.

Kompetensi dokter umum
Penelitian mengatakan lebih dari 70 % penyakit dapat diselesaikan ditingkat layanan primer. kompetensi dokter umum adalah mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan ini tidak dimiliki oleh dokter spesialis. Pengawasan tentang kompetensi pun sekarang sudah sangat ketat. Dokter yang belum lulus kompeteni tentunya belum bisa mengaplikasikan ilmu kedokterannya.
Kebijakan Pemerintah
kebijakan pemerintah saat ini belum mengarah kepada pemberdayaan dokter umum, pemerintah saat ini lebih senang menggunakan tenaga kesehatan yang murah dalam menjalankan program programnya, contoh : desa siaga, banyaknya puskesmas pukesmas yang kosong tanpa dokter ,pemerintah enggan/ tidak sepenuh hati menempatkan dokter dokter dipuskesmas yg kososng tersebut. bahkan pemerintah pusat dan daerah mengeluarkan program pengobatan gratis akan tetapi tanpa memenuhi hak haknya dokter.sehingga dapat megakibatkan pelayanan kesehatan yg kurang baik. sudah saatnya idi mengadvokasi anggota dalam masalah ini.
Tentang Penghasilan
Diluar negeri selisih penghasilan antara dokter umum dan dokter spesialis maksimal 2-3kali lipat dari penghasilan dokter umum/dokter keluarga/dokter layanan primer , di indonesia berkisar antara 10 -200 kali dari penghasilan dokter layanan primer. Sungguh ga jauh beda dengan buruh. Mengapa demikian ??Hal ini dikarenakan tidak adanya sistem rujukan yang baik. Sistem pelayanan kesehatan yang baik adalah sistem rujukan berbasis pada layanan primer .dokter spesialis tidak dapat menerima langsung pasien tanpa ada rujukan dari dokter keluarga/dokter umum .dokter spesialis yang menerima rujukan akan merujuk kembali kedokter umum apabila sudah dapat ditangani dgn baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s