HARGA DIRI RENDAH

Posted: April 5, 2011 in Psyciatric
Tags: , , , ,

Pendahuluan

Peristiwa- peristiwa traumatik seperti bencana alam, konflik berkepanjangan yang dialami oleh saudara-saudara kita telah meninggalkan dampak yang serius. Mereka mengalami kehilangan baik pekerjaan, harta benda, maupun saudara. Dampak kehilangan-kehilangan tersebut sangat mempengaruhi persepsi individu akan kemampuan dirinya, yang berakibat dapat mengganggu harga diri seseorang.

Biasanya harga diri sangat rentan  terganggu pada saat remaja dan usia lanjut.  Dari  hasil  riset  ditemukan  bahwa  masalah  kesehatan  fisik mengakibatkan  harga  diri  rendah.  Harga  diri  tinggi  terkait  dengam  ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan harga  diri  rendah  terkait  dengan  hubungan  interpersonal  yang  buruk  dan resiko terjadi harga diri rendah dan skizofrenia.

Gangguan  harga  diri  dapat  digambarkan  sebagai  perasaan  negatif  terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah  dapat  terjadi  secara  situasional  (trauma)  atau  kronis  (negatif  self evaluasi  yang  telah  berlangsung  lama).  Dan  dapat  di  ekspresikan  secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata).

Pengkajian

Harga diri rendah merupakan komponen Episode Depresi Mayor, dimana aktifitas merupakan bentuk hukuman atau punishment (Stuart & Laraia, 2005). Depresi adalah emosi normal manusia, tapi secara klinis dapat bermakna patologik apabila mengganggu perilaku sehari-hari, menjadi pervasif dan muncul bersama penyakit lain.

Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negativ terhadap diri sendiri dan kemampuan diri. Berikut ini adalah tanda dan gejala harga diri rendah :

  1. Mengkritik diri sendiri
  2. Perasaan tidak mampu
  3. Pandangan hidup yang pesimis
  4. Penurunan produktifitas
  5. Penolakan terhadap kemampuan diri

Selain data diatas, kita dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga diri rendah, yang terlihat dari kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara lemah.

Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku yang objektif dan teramati serta bersifat subjektif dan dunia dalam pasien sendiri.

Faktor presdisposisi

Berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang. Faktor ini dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi, penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis.
  2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah, steriotip peran seks, tuntutan kerja, dan harapan peran kultural.
  3. Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi, ketidak percayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan dalam struktur sosial.

Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan terhadap kasus harga diri rendah didapat melalui observasi, wawancara ataupun pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien sebagai berikut :

Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah

  1. Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan harga diri rendah.
  2. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
  3. Gangguan harga diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif.

Konsep  diri  sangat  erat  kaitannya  dengan  diri  individu.  Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri  yang  baik  dan  stabil.  Konsep  diri  adalah  hal-hal  yang  berkaitan  dengan ide,  pikiran,  kepercayaan  serta  keyakinan  yang  diketahui  dan  dipahami  oleh individu  tentang  dirinya.  Hal  ini  akan  mempengaruhi  kemampuan  individu dalam membina hubungan interpersonal.

Meskipun konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya. selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan  orang  lain  termasuk  berbagai  stressor  yang  dilalui  individu  tersebut. Hal  ini  akan  membentuk  persepsi  individu  terhadap  dirinya  sendiri  dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu.

Gambaran  penilaian  tentang  konsep  diri  dapat  di  ketahui  melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri  dari  beberapa  bagian,  yaitu  :  gambaran  diri  (body  Image),  ideal  diri, harga diri, peran dan identitas.

PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARGA DIRI YANG RENDAH

Mengkritik diri sendiri dan/atau orang lain

Penurunan produktivitas

Destruksi yang diarahkan pada orang lain

Gangguan dalam berhubungan

Rasa diri penting yang berlebihan

Perasaan tidak mampu

Rasa bersalah

Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan

Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri

Keteganggan peran yang dirasakan

Pandangan hidup yang pesimis

Keluhan fisik

Pandangan hidup yang bertentangan

Penolakan terhadap kemampuan personal

Destruktif terhadap diri sendiri

Pengurangan diri

Menarik diri secara sosial

Penyalahgunaan zat

DIAGNOSA DAN TERAPI MEDIS

Pemberian terapi medis pada kasus harga diri rendah juga tidak digolongkan sendiri dan lebih mengarah kepada pemberian obat golongan antidepresan, karena fungsi dari obat anti depresan adalah memblok pengambilan kembali neurotransmitter norepineprin dan serotonin, meningkatkan konsentrasinya pada sinaps dan mengkoreksi defisit yang diperkirakan menyebabkan alam perasaan melankolis. Hal ini sesuai dengan masalah neurotransmitter yang dihadapi oleh klien dengan harga diri rendah yaitu adanya penurunan neurotransmitter seperti serotonin, norepineprin.

Terdapat banyak jenis antidepresan tetapi pada kasus harga diri rendah kali ini pemberian obat yang dapat diberikan lebih banyak dalam jenis Tricyclic Anti Depresan (TCA) : Amitriptiline, Imipramine, desipramine, notriptilin, sesuai dengan fungsi dari obatnya yaitu untuk meningkatkan reuptake seorotonin dan norepinefrin sehingga meningkatkan motivasi klien dan sesuai dengan indikasinya yaitu pengobatan yang diberikan pada klien dengan depresi tetapi juga mengalami skizofrenia sehingga mempunyai efek pengobatan yang saling meningkatkan.

TERAPI KEPERAWATAN

Terapi keperawatan yang diberikan pada klien dengan harga diri rendah kronis ini meliputi tindakan untuk klien secara pribadi, juga untuk keluarga dan komunitas di lingkungan klien tinggal. Terapi yang diberikan tetap dengan menggunakan tindakan keperawatan generalis ditambah dengan tindakan berupa terapi kognitif untuk individu, triangle terapi untuk keluarga dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi dan logoterapi  untuk terapi kelompok pada klien harga diri rendah kronis. Terapi tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

1.   Tindakan keperawatan pada klien:

a.  Tujuan:

1)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

2)      Kien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan

3)      Klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan

4)      Klien dapat melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai kemampuan

5)      Klien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya

b. Tindakan keperawatan:

1) Terapi generalis

Prinsip tindakan:

  • Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki klien.
  • Bantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan
  • Bantu klien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih
  • Latih kemampuan yang dipilih klien
  • Beri pujian yang wajar terhadap keberhasilan klien
  • Bantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih
  • Evaluasi kemampuan pasien sesuai jadwal kegiatan harian
  • Latih kemampuan kedua
  • Motivasi klien memasukkan kemampuan kedua kedalam jadwal harian

2) Terapi Kognitif

Prinsip tindakan:

Sesi  I    : Mengungkapkan pikiran otomatis

Sesi II    : Mengungkapkan alasan

Sesi III   : Tanggapan terhadap pikiran otomatis

Sesi  IV  : Menuliskan pikiran otomatis

Sesi V    : Penyelesaian masalah

Sesi VI   : Manfaat tanggapan

Sesi VII  : Mengungkapkan hasil

Sesi VIII : Catatan harian

Sesi IX   : Support system

2.   Tindakan keperawatan pada keluarga

a.   Tujuan :

  1. Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
  2. Keluarga memfasilitasi aktifitas pasien yang sesuai kemampuan
  3. Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan latihan yang dilakukan
  4. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien

b.  Tindakan keperawatan :

1) Terapi generalis

Prinsip tindakan:

  • Menjelaskan tanda-tanda dan cara merawat klien harga diri rendah
  • Menjelaskan cara-cara merawat klien dengan HDR
  • Mendemonstrasikan dihadapan keluarga cara merawat klien denganHDR
  • Memberikan kesempatan kepada keluarga mempraktekkan cara merawat klien dengan HDR seperti yang telah di demonstrasikan perawat sebelumnya

2) Triangle terapi

Prinsip tindakan :

Sesi I      : Mengenali dan mengekspresikan perasaan

Sesi II     : Menerima orang lain (klien)

Sesi III   : Penyelesaian masalah

Sesi IV   : Mengungkapkan hasil

Tindakan keperawatan untuk kelompok

1) Terapi generalis : TAKS

Prinsip tindakan:

  • Sesi 1 : Membantu klien meningkatkan kemampuan memperkenalkan diri
  • Sesi 2 : Membantu klien berkenalan dengan anggota kelompok
  • Sesi 3 : Membantu klien untuk mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok
  • Sesi 4 : Membantu klien untuk mampu menyampaikan topik pembicaraan tertentu dengan anggota kelompok
  • Sesi 5 : Bantu klien untuk mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi dengan orang lain
  • Sesi 6 : Bantu klien untuk mempu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
  • Sesi 7 : Bantu klien untuk mamu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan kelompok yang telah dilakukan

2) Logo terapi

Prinsip tindakan :

  • Sesi 1 : Mengenal masalah
  • Sesi 2 : Mengajukan pertanyaan pada diri sendiri
  • Sesi 3 : Melihat dan merenungkan pengalaman yang bermakna
  • Sesi 4 : Mengungkap makna dalam kondisi kritis
  • Sesi 5 : Evaluasi dan terminasi

Beberapa terapi keperawatan yang dapat diberikan kepada klien dengan harga diri rendah kronis ini adalah terapi kognitif, logo therapy dan triangle therapy untuk di modifikasi dengan terapi medis yang diberikan. Dengan pertimbangan pemberian psikofarmaka hanya untuk mengatasi masalah penyakitnya saja dimana gejalanya diharapkan menjadi berkurang atau hilang tetapi tidak merubah pola pikir, perasaan dan perbuatan klien, sehingga klien akan kembali pada situasi mengalami harga diri rendah. Karena sebenarnya masalah utama  penyebab dari harga diri rendah kronis yang dialami belum diatasi dan kemampuan koping yang dipergunakan dalam menghadapi tekanan belum digunakan seefektif mungkin.

Terapi Kognitif

Kata cognitive atau cognition berarti pengetahuan atau pemikiran, oleh karena itu kognitif terapi dianggap sebagai pengobatan psikologi untuk pikiran. Secara sederhana terapi kognitif menjalankan asumsi tentang pikiran, keyakinan, sikap dan persepsi terhadap prasangka tanpa tekanan emosi yang berpengalaman dan juga intensitas emosi tersebut. Terapi kognitif ini ditemukan oleh Aaron Beck,M.D untuk terapi depresi. Dr Beck dan peneliti lainnya mengembangkan metode untuk menggunakan terapi kognitif untuk masalah psikiatrik lainnya, seperti, panik, masalah untuk pengontrolan marah dan pengguna obat. Bentuk terapi ini diterima sangat baik dalam menyokong penelitian, terutama terapi yang menyangkut depresi. (Westermeyer,  2005). Harga diri rendah kronis merupakan gejala yang dominan pada kondisi klien dengan depresi, sehingga terapi kognitif sangat tepat dilakukan pada klien dengan harga diri rendah kronis. Dengan dilakukannya terapi kognitif, diharapkan dapat merubah pikiran negatif klien menjadi pikiran yang positif.

Menurut Burns (1988), hasil penelitian di Amerika menyimpulkan bahwa terapi kognitif lebih cepat mengatasi depresi dan gangguan emosional lainnya daripada psikoterapi konvensional seperti terapi perilaku, terapi kelompok dan terapi yang berorientasi pada pengenalan diri (insight – oriented) maupun terapi obat-obatan (anti depresan). Terapi kognitif dapat melatih klien untuk mengubah cara klien menafsirkan  dan memandang segala sesuatu pada saat klien mengalami kekecewaan, sehingga klien merasa lebih baik dan dapat bertindak lebih produktif.

Terapi kognitif merupakan bentuk psikoterapi yang digunakan untuk pengobatan klien depresi,  kecemasan, phobia, dan bentuk lain dari penyakit mental.  Cognitive therapy merupakan dasar pemikiran tentang bagaimana klien berfikir (kognitif), bagaimana klien merasakan (emosi) dan bagaimana klien bertingkah laku dalam semua interaksi. Secara khusus, apa yang klien pikirkan menentukan perasaan dan tingkah laku klien. Karena itu pikiran negatif dapat menyebabkan distress dan menghasilkan masalah.

Cognitive Therapy merupakan salah satu pendekaan psikoterapi yang paling banyak diterapkan dan telah terbukti efektifitasnya dalam mengatasi berbagai gangguan, termasuk kecemasan dan depresi. Asumsi yang mendasari  terapi kognitif terutama untuk kasus depresi yaitu bahwa gangguan emosional berasal dari distorsi (penyimpangan) dalam berfikir. Perbaikan dalam keadaan emosi hanya dapat berlangsung lama kalau dicapai perubahan pola-pola berfikir selama proses proses terapi. Demikian pula pada pasien pola pikir yang maladaptif (disfungsi kognitif) dan gangguan prilaku, diharapkan klien mampu melakukan perubahan cara berfikir dan mampu mengendalikan gejala-gejala dari gangguan yang dialami. Terapi kognitif berorientasi pada pemecahan masalah, dengan terapi yang dipusatkan pada keadaan “disini dan sekarang”, yang memandang individu sebagai pengambilan keputusan penting tentang tujuan atau masalah yang akan dipecahkan dalam proses terapi.

Tujuan utama dalam terapi kognitif menurut Gara (2003) adalah:

  1. Membangkitkan pikiran-pikiran negatif/berbahaya, dialog internal atau bicara sendiri (self talk), dan interpretasi terhadap kejadian-kejadian yang dialami. Pikiran-pikiran negatif tersebut muncul secara otomatis, sering diluar kesadaran klien, apabila menghadapi situasi stress atau mengingat kejadian penting masa lalu. Distorsi kognitif tersebut perilaku maladaptif, yang menambah berat masalah.
  2. Terapi bersama klien mengumpulkan bukti yang mendukung atau menyanggah interpretasi yang telah diambil. Oleh karena pikiran otomatis sering didasari atas kesalahan logika atau pemahaman yang salah, maka terapi kognitif diarahkan untuk membantu klien mengenali dan mengubah distorsi kognitif. Klien dilatih mengenali pikirannya, dan mendorong untuk menggunakan keterampilan, menginterpretasikan secara lebih rasional terhadap struktur kognitif yang maladaptif.
  3. Menyusun desain eksperimen (pekerjaan rumah) untuk menguji validitas interpretasi dan menjaring data tambahan untuk diskusi didalam proses terapi. Dengan demikian terapi kognitif diharapkan berperan sebagai mekanisme proteksi agar kecemasan dan depresi tidak mengancam, karena klien belajar mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gangguan.

Menurut Burns (1988) , teknik kontrol mood yang efektif dan sederhana dalam terapi kognitif yang bertujuan :

  1. Perbaikan simptomatik secara cepat: Terhentinya segala gejala depresi sering terjadi dalam waktu singkat (12 minggu)
  2. Memahami: Penjelasan tentang mengapa klien murung dan apa yang dapat klien lakukan untuk mengubahnya. Klien akan mengetahui penyebab cengkraman kuat perasaannya dan dapat membedakan emosi yang normal dan abnormal.
  3. Kendali diri: Klien akan mengetahui cara menerapkan strategi pertolongan diri yang efektif dan aman, sehingga dapat kembali merasa lebih baik. Terapis akan membimbing klien mengembangkan rencana bantu-diri (self-help) secara bertahap, realistis dan praktis.
  4. Pencegahan dan pertumbuhan pribadi: Pencegahan yang bertahan lama terhadap gelombang rasa murung di masa depan dapat bersandar pada penilaian kembali beberapa nilai dan sikap dasar yang melatarbelakangi kecenderungan klien mengalami depresi. Terapis akan membantu klien bagaimana menghadapi dan mengevaluasi kembali beberapa asumsi tertentu mengenai nilai dan martabat manusia.

Logo Therapy

Logoterapi berfokus pada arti eksistensi manusia dan usahanya mencari arti itu. Logoterapi memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan kita harus memperhitungkan ketiganya. Selama ini dimensi spiritual diserahkan kepada agama, dan pada gilirannya agama tidak diajak bicara untuk urusan fisik dan psikologis. Kedokteran, termasuk psikoterapi telah mengabaikan dimensi spiritual sebagai sumber kesehatan dan kebahagiaan.

Teknik analisa dalam logoterapi meliputi mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, melihat dan merenungkan pengalaman yang bermakna dan mengungkap makna dalam kondisi kritis. Pada klien dengan harga diri rendah kronis, dimana klien lebih dominan memandang aspek negatif dirinya dan kurang bergairah dalam mencari makna kehidupan ataupun dalam pencapaian tujuan hidup. Penerapan logoterapi pada klien dengan harga diri rendah kronis akan membantu klien dalam mengungkapkan perasaan dan menemukan makna kehidupan serta akan meningkatkan neurotransmitter di otak (terutama serotonin), sehingga harga diri klien dapat meningkat secara bermakna.

Triangle Therapy

Setiap hubungan antara terapis, klien dan keluarga dalam psikoterapi merupakan bagian dari triangle relationship (hubungan segitiga). Hal ini karena setiap klien merupakan bagian dari multi generasi yang disebut keluarga. Setiap terapi berpengaruh bagi keluarga dan dipengaruhi oleh keluarga.

Hal ini sesuai dengan konsep triangle therapy bahwa jika dua orang anggota keluarga terjadi konflik, maka dibutuhkan pihak ketiga untuk menyelesaikan dan mendukung penyelesaian masalah mereka. Secara alamiah, proses dalam kehidupan manusia dipengaruhi oleh tiga sisi jaringan hubungan tersebut. Ketiga jaringan tersebut membentuk hubungan yang disebut ”emotional triangle”. Pada klien dengan harga diri rendah kronis, pola interaksi dengan keluarga tidak berjalan dengan baik. Sehingga dengan dilakukannya triangle therapy ini dapat membantu klien dalam mengekspresikan perasaannya dan klien dapat diterima dalam keluarganya dan mendapat support dari keluarga dalam penyelesaian masalah klien. Inti dari terapi ini adalah bukan saja menghilangkan gejala yang ditimbulkan dari masalah yang dihadapi. Akan tetapi adalah bagaimana membantu klien dengan harga diri rendah kronis yang biasanya menggunakan koping regresi menjadi lebih dewasa dalam menghadapi masalah yang dialaminya dan mencegah supaya gejala yang dialaminya tidak muncul kembali. Proses pendewasaan ini adalah proses belajar menjadi diri sendiri dalam berinteraksi dengan orang lain.

Text Box: PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN  HARGA DIRI YANG RENDAH  Mengkritik diri sendiri dan/atau orang lain Penurunan produktivitas Destruksi yang diarahkan pada orang lain Gangguan dalam berhubungan Rasa diri penting yang berlebihan Perasaan tidak mampu Rasa bersalah Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri Keteganggan peran yang dirasakan Pandangan hidup yang pesimis Keluhan fisik Pandangan hidup yang bertentangan Penolakan terhadap kemampuan personal Destruktif terhadap diri sendiri Pengurangan diri Menarik diri secara sosial Penyalahgunaan zat Menarik diri dari realitas khawatir
Comments
  1. arik says:

    tips yang rumit, bisa nggak lebih disingkat supaya gampang dimengerti?padahal artikel ini menarik sekali untuk menambah kepercayaan diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s